GRATIS... Klik di sini

Pertama

Minggu, 17 Maret 2013

Cerita Anak : Seperti Tumbuhan Padi


Sepatu belum dilepas. Pakaian seragam sekolahnyapun belum juga diganti. Tas dilempar di tempat tidurnya. Sigit langsung membantingkan dirinya sambil menggerutu dengan wajah cemberut. Emosinya meledak.

Itulah sebabnya, maka ibunya memasang telinga di muka pintu Sigit. lngin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak tunggalnya itu.

“Prok! Prok!” suara di dalam kamar itu mengejutkan ibu Sigit.

“Ada apa sih, Git?” tanya ibu Sigit dari balik pintu kamar.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar.

“Keluarlah nak…..!”
pinta ibu Sigit halus.

Itupun tak dijawab oleh Sigit.

“Sebaiknya sepulang sekolah kamu cuci tangan dan makan dulu, Git…”

Tetap tidak ada sautan. Hal itu menyebabkan ibu Sigit geleng-geleng kepala dan akhirnya berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.

Jam menunjukkan pukul lima sore ketika Sigit selesai mandi. Kini wajahnya tak secemberut siang tadi. Apa lagi tak lama kemudian Dullah
datang membawa buah duku.


“Manis juga ya….” ujar Sigit sambil mengunyah duku.

“Mau yang masam?” kelakar Dullah.

“Nggak, ah….”

Ditengah-tengah keasyikan itu tiba-tiba ibu Sigit mendekatinya.

“Nah, hegitu dong, susah itu tak ada gunanya, bukan?” kata ibu Sigit.

“Benar nggak, Git! Dul…! Oya, sebenarnya ada kejadian apa sih, Dul, siang tadi? Sepulang sekolah Sigit mengunci kamar menggerutu tak ada habisnya.”

Dua anak itu berpandang-pandangan. Dullah berpikir¬pikir.

“Apa sih, Git?” bisik Dullah kepada Sigit.

“Ridwan! Murid baru tadi!” jawab Sigit berbisik pula. Dullah jadi ingat.

“Oya bu, di kelas kami ada seorang murid baru. Ridwan namanya. Dia berasal dari desa. Dia pendiam tak banyak omong. Penakut barangkali. Oleh karena itulah maka Iping selalu menyindirnya, mana anak udik! Anak tak becus dan sebagainya. Tetapi Ridwan tak marah sedikit pun. Namun di balik itu semua, dia cerdas sekali. Tadi ketika ulangan matematika dia mendapat nilai sepuluh. Bayangkan, bu! Padahal lainnya paling tinggi hanya mendapat tujuh. Termasuk Sigit yang biasanya mendapat nilai paling baik. Namun kali ini ada yang mengungguli.”

Sigit menunduk.

“Itukah yang menyebabkan siang tadi kau cemberut, Git?” desak ibu Sigit. “Itu keliru. Seharusnya teman baru yang lebih pandai harus bersyukur. Bahkan dapat kalian manfaatkan. Kalian harus banyak belajar dari dia, agar nilai-nilaimu nanti dapat lebih baik. Lebih dari itu ibu yakin dia mesti anak baik. Tidak sombong. Tidak suka menonjolkan kepandaiannya. Ibarat tumbuhan padi. Menunduk karena berisi. Nah, kalian harus meniru ilmu padi itu.”

Sigit dan Dullah saling berpandangan. Mereka mengerti maksud ibu Sigit.

“Baiklah, bu,” ucap Sigit tersendat.

“Kapan-kapan kita belajar bersama ke rumahnya,” sambung Dullah. “Karena memang ujian sudah dekat.”

“Tentu!” jawab Sigit.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar